|
JAYAPURA [PAPOS] – Bupati Mamberamo Tengah menyangkan terjadinya bentrok akibat unjuk rasa massa pro dan kontra terhadap pengumuman hasil CPNS kabupaten Memberamo Tengah, yang terjadi Senin (15/3) siang sekitar pukul 14.00 Wit didepan Kantor Sekretariat Mambramo Tengah di Jaya Asri, Distrik Jayapura Selatan.
Akibat bentrok tersebut sedikitnya 3 orang massa terluka akibat terkena busur maupun batu dan satu mobil Kijang Innova hitam milik warga setempat rusak.
Dari data yang dihimpun Papua Pos, bentrokan antara massa pendemo dari putra asli Kobakma, Kabupaten Membramo Tengah dan masa dari tiga kecamatan di Mambramo Tengah,
yakni Kelila, Indugwa dan Eragayam bermula telah diumumkannya penerimaan CPNS di Kabupaten Membramo Tengah, Kamis (11/3) lalu.
Mereka yang tidak lolos membuat kelompok pendaftar yang gugur serta masyarakat Membramo Tengah yang ada di Abepantai yang tidak terima dengan mengajukan pemberitauan ke Polda Papua untuk menggelar demo damai di Kantor Sekretariat Mambramo Tengah, Senin (15/3).
Namun sebelumnya, penjabat Bupati Memberamo Tengah, David Pagawak, S.Sos telah meminta kepada para peserta test CPNS agar tidak melakukan demo di Jayapura, kalau memang mau menyampaikan aspirasi silahkan disampaikan di Kobagma, karena di Jayapura bukan kantor tempat penyampaian aspirasi.
Tetapi pihak pendemo bersikeras untuk melakukan demo di Jayapura, sehingga pada Senin (15/3) masyarakat Memberamo Tengah yang tinggal di Abepantai datang menuju kantor Sekretariat Pemerintah Membramo Tengah di Jaya Asri.
Tiba di jalan masuk Jaya Asri mereka melihat di sekretariat, sekitar 60 pendemo yang dipimpin oleh Ishak Kawaitu melihat sekelompok massa di kantor sekretriat tengah diberi arahan oleh anggota DPRD Mambramo Tengah, Agustinus Gundigi. Akibatnya membuat oknum pendemo emosi dan melakukan pemukulan terhadap anggota DPRD tersebut hingga berujung bentrok.
Untung benturan kedua kubu berhasil diredam oleh petugas Polsekta Jayapura Selatan, sehingga tidak meluas. Selanjutnya masa kedua kubu diamankan ke Mapolresta Jayapura bersama barang bukti 2 busur panah dan puluhan anak panah serta kayu.
Menurut keterangan pejabat sementara Ketua DPRD Mambramo Tengah, Ita Mantago,S.Sos kepada Papua Pos, unjukrasa itu dilakukan karena masyarakat merasa hasil tes CPNS tidak memihak penduduk asli.
"Masyarakat Kobakma yang selalu memperjuangkan daerahnya, tapi masalah penerimaan CPNS sudah 2 kali banyak yang tidak tembus dan 187 sisanya belum diumumkan,"terangnya di Mapolresta Jayapura
Namun menurut keterangan Kepala Bidang Kepegawaian Mambramo Tengah, Ham Pagawak, SH, M.Si, unjukrasa tersebut bukan semata-mata memperjuangkan hasil CPNS, melainkan telah diboncengi dengan kepentingan politik. Karena menurut hasil CPNS di Mambramo Tengah telah usai dan final. Bahkan pihaknya membantah terkait sisa formasi CPNS lebih dari 100 orang.
"Itu tidak benar, hanya kurang lebih 43 orang dan kita sudah menarik semua putera asli Membramo Tengah untuk jadi CPNS, namun mereka tidak ikut tes, jadi dinyatakan gugur,"tegasnya
Menurutnya, dalam penerimaan CPNS di Mambramo Tengah pihaknya tetap mengacu pada Undang-Undang Otsus. Disamping
itu dari penerimaan ini hampir 90 persen putra asli yang diterima. "Bila kita ikuti formasi yang ada maka akan kekurangan tenaga, sedangkan yang dibutuh untuk ditempatkan di Mambramo Tengah butuh tenaga ahli, sehingga kita menutut formasi dengan mengambil dari luar yang sesuai kriteria,"jelasnya
Sementara itu, Kapolresta Jayapura, AKBP H.Imam Setiawan Sik saat dikonfirmasi menegaskan, pihaknya kini masih mendalami insiden bentrok dua kubu ini dengan memeriksa saksi-saksi. "Memang benar ada insiden benturan massa di Jaya Asri yang mengakibatkan sekitar 3 orang terluka serta satu mobil rusak, namun kini masih didalami,"katanya, Selasa (16/3) petang.
Kapolresta menegaskan bahwa pada dasarnya pihak kepolisian akan terus menindak lanjuti setiap kejadian atau laporan warga yang merasa dirugikan. "Kita akan berupa mengusut kasus ini termasuk pengrusakan yang dilakukan oleh oknum pendemo,"tandasnya [loy]
|