|
JAYAPURA [PAPOS] – Setelah Polres Tolikara berhasil meredam bentrok antar suku yang terjadi sejak Sabtu (10/7) lalu. Kemarin bentrok antar kedua suku itu kembali terjadi mengakibatkan 2 orang meninggal dunia.
Aksi saling panah terjadi setelah pihak keluarga laki-laki mendengar informasi, bahwa Senin (12/7) kemarin sekitar pukul 23.55 Wit korban yang dievakuasi ke RSUD Dok II Jayapura bernama Albert Tabo telah meninggal dunia.
Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi, Wachyono saat dikonfirmasi Papua Pos membenarkan bahwa telah terjadi kembali bentrok antar dua kubu di Tolikara, menyebabkan dua orang meninggal dunia, sehingga jumlah yang meninggal akibat bentrok warga di Tolikara menjadi 4 orang. “Mereka bentrok akibat mendengar informasi bahwa korban dari pihak keluarga laki-laki yang dievakusi ke RSUD Dok II Jayapura telah meninggal dunia,” katanya.
Setelah kelompok keluarga Tabo mendengarkan informasi bahwa Albert Tabo telah meninggal dunia di RSUD Jayapura, secara spontan Selasa (13/7) sekitar pukul 05.30 Wit kubu dari pihak Tabo melakukan pembalasan kepada kubu pihak keluarga wanita yang berlangsung di kampung Gilibandu mengakibat 2 orang meninggal dunia bernama Elimor Wandik dan Giliron Kogoya.
Aparat kepolisian dari Polres Tolikara yang mendengar kejadian itu langsung mengamankan TKP, sehingga situasi kamtibmas terkendali.
Namun ditempat kejadian perkara (TKP) ditemukan 2 orang meninggal dunia ditempat terpisah, korban Elimor Wandik ditemukan dengan luka panah dan parang dibagian tubuhnya, sementara korban Giliron Kogoya, ditemukan di lokasi Jl. Ampera dengan mengalami luka panah.
Kabid Humas mengungkapkan, selain 2 orang meninggal dunia, juga ditemukan 5 orang luka berat, dan 25 mengalami luka ringan. Ke-5 orang yang mengalami luka berat langsung di terbangkan ke Jayapura dengan menggunakan pesawat Susi Air untuk mendapat pengobatan, sementara 25 yang mengalami luka ringan dipulangkan ke rumah masing-masing.
Akibat kejadian itu aparat kepolisian Polresta Tolikara melakukan pengamanan dilokasi kejadian, namun aktifitas masyarakat berjalan dengan normal.
Untuk menyelesaikan masalah pertikaian tersebut aparat kepolisian telah melakukan pendekatan dengan kedua belah pihak yang bentrok dan koordinasi dengan pihak Pemda dan TNI, untuk menjajaki perdamaian.
Kabid Humas Polda menjelaskan kronologis kejadian, dimana kejadian itu berawal dari perkelahian suami istri yakni Betena Wandik dan suaminya Alpius Wenda. Lalu Betena wandik melapor ke pihak keluarganya mengenai perkelahiannya dengan suaminya itu.
Ketika sang suami ingin menjemput istrinya dirumah bapak mantu [mertua] namun keluarga istri yang tidak terima atas perbuatan dilakukan suaminya, sehingga terjadi perkelahian diantara mereka.
Akibat perkelahian itu, Suami tidak terima sehingga memberitahukan kepada kelompok marganya, sehingga dari keluarga melakukan balasan yang berujung bentrok mengakibatkan 1 orang meninggal dunai dan 2 orang luka berat dievakuasi ke RSUD Dok II Jayapura.
Ditempat terpisah, Komandan Korem 172/PWY Kolonel Inf Daniel Ambat kepada wartawan usai acara serah terima jabatan Komandan Kodim 1701 Jayapura, Selasa (13/7) mengatakan, sejak terjadinya bentrok sejak 10 Juli lalu pihak TNI bersama polisi terus melakukan upaya kewaspadaan dan melakukan pengamanan untuk tidak lagi terjadi bentrok.
Dibawah komando dan pengendalian dari pihak kepolisian untuk melakukan pengamanan TNI membatu dalam mengamankan situasi. “Kita hanya membantu teman-teman dari kepolisian untuk melakukan pengamanan,” tegas Danrem.
Menurut Danrem 172, Daniel Ambat, sejak terjadi bentrok hari Sabtu lalu sampai hari ini kedua kubu masih terus bersitegang dan berkonsentrasi disejumlah tempat. Bahkan tadi [kemarin-Red] kembali terjadi bentrok mengakibatkan 2 orang meninggal dunia.
Dimana kata Danrem, awal terjadi bentrok antar kedua kubu itu, Sabtu [10/7] lalu 7 orang mengalami luka berat, selanjutnya 3 di evakuasi ke RSUD Dok II Jayapura, sedangkan 4 orang luka lainnya dievakuasi ke RSUD Karubaga.
“ Mendengar informasi bahwa salah satu dari kelompok mereka telah meninggal di RSUD Dok II Jayapura, akhirnya mereka melakukan penyerangan sehingga dari kelompok lawannya meninggal dunia 2 orang,” jelas Danrem.
Sementara itu, juru bicara Forlap Kabupaten Tolikara sekaligus Ketua Pemuda Tolikara meminta kepada Kapolda Papua agar segera menurunkan bantuan personil untuk mengamankan situasi di Kabupaten Tolikara, karena kubu kedua belah pihak yang bertikai masih terus melakukan pengintaian terhadap lawan, maka untuk menghindari berjatuhan korban akibat bentrok tersebut, aparat keamanan harus melakukan pemblokiran diantara kedua belah pihak.
“Karena bentrok dikedua kubu masih terus berlanjut, maka menghindari bertambahnya korban aparat keamanan harus segera melakukan tindakan persuasif, untuk itu kami minta Kapolda untuk segera menurunkan personil dari Polda Papua,” ujar Yotham kepada Papua Pos, Selasa (13/7) lewat Telephone selulernya.
Selain itu, Yotham menyayangkan sikap Bupati Tolikara yang masih berda diluar dan tidak memperhatikan rakyat yang ada di Kabupaten Tolikara ini. “ Dia seolah-olah membiarkan rakyatnya berperang hingga ada meninggal dunia dan tidak segara melakukan tindakan untuk melakukan perdamaian,” jelas Yotham.
Dengan kejadian seperti ini, Yotham meminta kepada Gubernur Papua untuk segera menurunkan tim yang menangani masalah ini, kalau tidak maka rakyat di Tolikara akan terus perang dan akan banyak korban yang berjatuhan.[loy]
|