by

Santri Penjaga Bumi Cenderawasih

Oleh: Dr. Surindi, M.S.I.

Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Papua
Pada 23 Mei 2026 lalu, sebanyak 26 warga adat Kampung Sereh, Kabupaten Jayapura, menyusuri lereng Cagar Alam Cycloop.

Mereka menemukan enam bukaan lahan kebun, sebagian di bekas jalur longsor 2019, serta kebun labu siam yang luas di atas kepala air terjun.

Temuan itu dilaporkan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 28 Mei lalu.
Temuan ini patut membuat kita gelisah. Cycloop bukan sekadar bentang alam yang indah.

Ia menahan lereng dan menyimpan air bagi warga di sekitar Sentani dan Jayapura. Pada 2019 kita sudah melihat harga yang harus dibayar ketika penyangga itu rapuh: banjir bandang dan longsor yang merenggut banyak korban jiwa.

Besok, 22 Oktobe 2026r, kita memperingati Hari Santri Nasional dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Di Papua, menguatkan negeri tidak bisa dilepaskan dari menjaga hutan dan air yang menopang hidup orang banyak.

Karena itu santri perlu tampil sebagai penjaga bumi, termasuk Bumi Cenderawasih. Menjaga lingkungan bukan pelengkap ibadah, melainkan bagian dari iman.

Iman yang Tidak Berhenti di Masjid
Kesalehan sering kita ukur dari salat, tilawah, zikir, dan kehadiran di pengajian. Semua itu penting. Namun Al-Qur’an juga menegaskan manusia sebagai khalifah di bumi (Al-Baqarah: 30) dan melarang berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya (Al-A’raf: 56). Kekhalifahan berarti tanggung jawab, bukan izin untuk mengeksploitasi.

Para ulama di negeri ini pun telah menegaskannya. Majelis Ulama Indonesia pada 2023 mengeluarkan fatwa tentang pengendalian perubahan iklim global yang menempatkan upaya itu sebagai tanggung jawab keagamaan. Merawat alam bukan kegiatan sampingan.

Kita berwudu dengan air bersih setiap hari. Sulit menjelaskan bila kita diam ketika hutan yang menjaga sumber air itu dibuka. Inilah inti ekoteologi: mencintai Sang Pencipta berarti merawat ciptaan-Nya.

Lebih dari Sekadar Menanam Pohon
Ajakan menanam pohon dan memungut sampah saja tidak cukup. Kita perlu jujur melihat akar persoalannya. Membuka kebun di lereng curam sering didorong kebutuhan nafkah, bukan niat merusak.

Menyalahkan petani semata tidak adil, tetapi membiarkan pembukaan lahan di kawasan lindung juga tidak bisa dibenarkan. Jalan tengahnya adalah penegakan aturan yang konsisten, disertai pilihan penghidupan yang layak bagi warga di sekitar kawasan.

Masyarakat adat harus berada di tengah pembicaraan ini, bukan di pinggirnya. Warga Sereh sudah menunjukkannya: merekalah yang turun memantau dan melapor. Bagi banyak komunitas di Papua, tanah, hutan, dan air bermakna identitas serta keberlangsungan hidup antargenerasi, bukan sekadar nilai ekonomi. Tidak adil meminta warga menjaga lingkungan sementara praktik yang merusaknya dibiarkan tanpa evaluasi.

Hal serupa berlaku bagi Danau Sentani. Perubahan kondisinya perlu ditelaah melalui pemantauan ilmiah agar penyebab dan solusinya tidak berhenti pada dugaan.

Peran Santri
Lalu, apa yang bisa dilakukan santri? Setidaknya ada empat langkah yang bisa dimulai sekarang.
Pertama, membawa isu lingkungan ke mimbar dan ruang belajar. Khutbah Jumat, pengajian, kelas di pesantren, madrasah, dan sekolah dapat membahas air, hutan, dan sampah sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.

Kedua, memberi teladan lewat kebiasaan yang konsisten: mengurangi plastik sekali pakai, menghemat air, mengelola sampah, dan menjaga sungai di sekitar kita. Kebiasaan yang bertahan lebih berarti daripada seremoni tanam pohon yang tidak dirawat.

Ketiga, bekerja bersama. Papua dihuni umat dari beragam agama dan adat. Santri dapat menggandeng gereja, tokoh adat, pemuda adat, sekolah, pemerintah, dan komunitas. Mereka tidak perlu menjadi ahli kehutanan; cukup menjadi penyebar informasi yang benar dan penghubung antar kelompok.

Keempat, bersuara dengan santun, kritis, dan berbasis fakta: ikut mengawasi, menanyakan izin dan kebijakan, serta mendukung warga yang melaporkan kerusakan.

Merawat Amanah
Pada 22 Oktober 1945, para ulama dan santri menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan tanah air. Tantangan hari ini berbeda, tetapi semangatnya sama. Bagi santri di Papua, menjaga Cycloop, Sentani, dan hutan-hutan kita adalah salah satu bentuk mempertahankan tanah air.

Kita ingin anak-anak Papua kelak masih menikmati air bersih, udara sehat, dan hutan yang memberi kehidupan. Doa penting, tetapi harus disertai tindakan. Santri menjaga iman, santri merawat kehidupan. Membela kelestarian bumi bukan kegiatan di luar agama, melainkan wujud tanggung jawab kepada Allah.(***)